Pilih Mana: Sukuk atau Obligasi Syariah?

Loading...

Anda pastinya pernah mendengar yang namannya sukuk? Namun apakah Anda pun tahu apa itu sukuk? Sukuk berasal dari bahasa Arab sak (tunggal) dan sukuk (jamak) yang memiliki arti yang mirip dengan sertifikat atau catatan. Sukuk sebenarnya lebih dikenal dengan sebutan obligasi syariah di Indonesia. Bahkan kerap menjadi bahan perbincangan lantaran perkembangan dunia investasi yang berbasis islami menjadi solusi bagi yang ingin investasi sesuai hukum islam. Pilih mana: sukuk atau obligasi? Di Indonesia obligasi syariah ini muncul sejak tahun 2002. Jika disimpulkan sukuk merupakan surat berharga yang diterbitkan berdasarkan hukum islam yang dikeluarkan oleh Mudharib bagi pemegang sukuk.

Pengertian Obligasi Syariah (Sukuk)

Obligasi syariah (sukuk) adalah bukti kepemilikan. Terdapat juga pengertian lain mengenai sukuk ini menurut fatwa MUI adalah surat berharga (sekuritas) jangka panjang berdasarkan prinsip syariah yang diterbitkan emiten kepada pemegang obligasi syariah (sukuk). Obligasi Syariah (Sukuk) sesuai dengan fatwa DSN (Dewan Syariah Nasional) adalah sekuritas jangka panjang berdasarkan prinsip syariah yang diterbitkan emiten kepada pemegang obligasi syariah yang mewajibkan emiten untuk membayar pendapatan kepada pemegang obligasi syariah dalam bentuk bagi hasil dan membayar kembali dana obligasi pada saat jatuh tempo.

Secara prinsipnya, sukuk ini mirip dengan obligasi konvensional namun memiliki perbedaan pokok seperti penggunaan konsep bagi hasil sebagai pengganti bunga, adanya transaksi pendukung berupa sejumlah aset yang mendasari penerbitan sukuk dan adanya akad atau perjanjian antara para pihak yang disepakati berdasarkan prinsip syariah.

Selain itu, sukuk juga harus terstruktur secara syariah sehingga instrumen keuangannya aman dan bebas dari riba, gharar dan maysir. Dan sukuk itu bukan utang berbunga, melainkan masuknya dana (penyertaan) didasarkan prinsip pembagian keuntungan (mudharabah dan musyarakah). Baca juga Pilih Mana: Obligasi atau Saham?

Hukum Dasar Obligasi Syariah (Sukuk)

Menurut Sapto Rahardjo, hukum dasar obligasi syariah di Indonesia adalah sebagai berikut:
1. Pendapat Ulama tentang larangan bunga (interest).
2. Pendapat ulama tentang larangan obligasi yang pendapatannya berupa bunga (kupon).
3. Pendapat ulama tentang obligasi syariah dengan prinsip mudharabah, murabahah, musyarakah, istishna, dan salam.
4. Fatwa Dewan Syariah Nasional No. 20DSN/IV/2001 tentang Pedoman Pelaksanaan Investasi Reksadana Syariah.
5. Fatwa Dewan Syariah Nasional Nomor: 32/DSN-MUI/IX/2002 tentang Obligasi Syariah.

Manfaat Obligasi Syariah (Sukuk)

Harus Anda ketahui Emiten merupakan sebutan lain dari Mudharib yang merupakan perusahaan penerbit obligasi syariah dan menjualanya kepada investor. Terdapat manfaat obligasi syariah bagi investor dan juga emiten, di bawah ini ialah uraiannya:

– Bagi Investor
Manfaat yang akan didapatkan oleh para investor obligasi syariah berupa hasil bagi sesuai jumlah yang telah disepakati sebelumnya dalam jangka waktu tertentu, atau hingga perusahaan tersebut mampu melunasi pendanaan yang telah diberikan oleh investor.

– Bagi Emiten (Mudharib)
Bagi emiten hal ini bermanfaat sebagai upaya dalam mencari pendanaan dari luar sebagai tambahan modal kerja. Dengan demikian emiten dapat menerbitkan sukuk dan menjualnya kepada investor berdasarkan hukum syariah.

Keunggulan Obligasi Syariah (Sukuk)

Investasi ini aman karena default risk atau dapat dikatakan nihil risiko. Karena sekuritas ini dikeluarkan oleh negara, maka yang menjamin pembayarannya ialah negara tersebut, misalnya Negara Indonesia.

Loading...

Dapat diperjualbelikan di pasar sekunder untuk mencairkan obligasi syariah sebelum jatuh tempo. Jika ingin menarik diri sebelum jatuh tempo, maka pemilik bisa menjual ke pasar sekunder. Dari hasil penjualan, pemilik bisa mendapatkan kembali modalnya.

Keunggulan obligasi syariah lainnya yaitu memberikan fixed return (imbalan tetap) yang dibayarkan secara berkala. Sejak awal sudah ditentukan imbalan yang akan diterima oleh pemegang sukuk. Biaya ini akan dibayarkan bulanan dan jumlahnya tetap. Jadi hasil ini memberikan kepastian bagi mereka yang berinvestasi di instrumen ini.

Jenis-Jenis Obligasi Syariah (Sukuk)

1. Sukuk Musyarakah
Jenis obligasi syariah yang mana dua pihak atau lebih yang bekerja sama dan menggabungkan modal guna membangun proyek baru, mengembangkan proyek yang ada, atau membiayai kegiatan usaha yang diterbitkan sesuai akad atau perjanjian musyarakah. Keuntungan atau kerugian yang terjadi ditanggung bersama sesuai dengan jumlah penyertaan modal masing-masing pihak. Sukuk musyarakah ini merupakan sertifikat kepemilikan permanen, dimiliki oleh perusahaan atau unit usaha dengan pengawasan dari pihak manajemen.

2. Sukuk Ijarah
Suatu sertifikat yang berisi nama pemilik (investor) dan melambangkan kepemilikan aset yang bertujuan untuk disewakan, atau kepemilikan atas tunjangan dan kepemilikan jasa sesuai dengan jumlah efek yang dibeli dengan harapan mendapatkan keuntungan dari hasil sewa yang direalisasikan berdasarkan transaksi ijarah.

Ketentuan sukuk ijarah sebagai berikut:
– Penyewa harus membagi hasil yang diperoleh dalam bentuk imbalan atau sewa atau upah.
– Objek berupa barang atau jasa.
– Penyewa harus menjaga objek agar manfaat yang diberikan oleh objek tetap terjaga.
– Penyewa harus menjadi pemilik mutlak.
– Manfaat objek dan nilai manfaat tersebut diketahui dan disepakati oleh kedua belah pihak.

3. Sukuk Mudharabah
Jenis sukuk yang diterbitkan berdasarkan akad atau perjanjian mudharabah yang merupakan bentuk kerja sama dengan skema bagi hasil atau bagi hasil antara pemilik modal dan pengelola modal. Atau bisa diumpamakan satu pihak menyediakan modal dan pihak lainnya menyediakan tenaga kerja atau keahlian, keuntungan dari kerjasama tersebut dibagi berdasarkan pada perbandingan yang telah disepakati sebelumnya dan kerugian yang timbul akan ditanggung sepenuhnya oleh penyedia modal.

Berikut alasan pemilihan sukuk mudharabah, antara lain:
– Dapat digunakan untuk pendanaan umum seperti pendanaan modal kerja ataupun dana capital expenditure
– Struktur dalam kegiatan ini mungkin tidak memerlukan jaminan aset tertentu. Hal ini berbeda dengan struktur yang menggunakan kontrak perdagangan yang membutuhkan jaminan aset yang didanai.
– Sebuah bentuk yang paling sesuai untuk investasi besar dan jangka panjang.

4. Sukuk Istishna’
Jenis obligasi syariah yang diterbitkan berdasarkan perjanjian atau akad istishna dimana pihak-pihak tersebut menyetujui penjualan dan pembelian dalam rangka pembiayaan suatu usaha.

5. Sukuk Salam
Dalam jenis obligasi syariah ini dana dibayar dimuka dan komoditas menjadi hutang. Dana juga dalam bentuk sertifikat yang memprestasikan hutang. Sertifikat ini juga tidak bisa diperdagangkan.

Kesimpulan

Dengan demikian, untuk mendapatkan hasil investasi secara maksimal obligasi syariah yang telah dimiliki lebih baik dipegang sampai jatuh tempo berakhir. Hal ini dikarenakan jika dilepas sebelum jatuh tempo, sistem bagi hasil yang disepakati belum seberapa serta pemegangnya akan dikenakan beberapa biaya. Intinya jika Anda berencana berinvestasi berdasarkan hukum islam, obligasi syariah (sukuk) dapat menjadi pilihan Anda untuk menghindari riba, gharar dan maysir dalam investasi. Jika berbicara tentang judul artikel yang kami buat, sukuk atau obligasi syariah merupakan sistem investasi berdasarkan hukum islam yang hanya memiliki perbedaan dalam penulisan dan sebutannya saja.

Kamu pilih yang mana? Vote sekarang dan lihat hasil survey yang jadi selera pembaca lainnya:

Sukuk vs Obligasi Syariah

VS
Loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *